Motor Listrik dan Transportasi Kompleks Perumahan

JAKARTA | POTRET OTO – Motor Listrik dan Transportasi Kompleks Perumahan merupakan 2 hal yang tidak dapat dipisahkan pada saat ini. Kebutuhan akan mobilitas sudah menjadi bagian dari sejarah manusia. Tak hanya para pria, kaum hawa juga punya preferensi terkait kendaraan yang sedang ramai di pasaran. Fenomena ini tertangkap dengan jelas di pameran IIMS 2023, sejumlah wanita ikut memadati Hall JIExpo, Kemayoran, Jakarta untuk melihat lebih dekat motor listrik idamannya. Rasa penasaran mereka telah memutus sekat dominasi laki-laki maupun anak muda. “Emak-emak” ini bahkan tak canggung langsung mencoba motor listrik di area test ride.

Salah satunya Indri (29) asal Depok, yang sengaja datang ke Kemayoran, mau melihat pilihan motor listrik yang tersedia di pasar. “Saya senang saja, soalnya ringan dan enggak ada suaranya. Buat muter-muter komplek oke banget,” ujar Indri, saat ditemui Kompas.com di sela-sela ajang IIMS 2023. Namun setelah melihat produk-produk yang ditawarkan, ia cukup kaget melihat harga motor listrik umumnya dijual Rp 20 jutaan ke atas.

“Saya cari yang Rp 5 jutaan sampai Rp 6 jutaan. Pertimbangan saya lebih ke modelnya, karena buat cewek kan. Tapi sekarang masih mikir-mikir dulu,” kata dia. Sementara itu, Tias (26) asal Bogor yang datang bersama suami dan anaknya, mengatakan, ada beberapa alasan pertimbangan pilih motor listrik, selain harga jualnya. “Yang jelas cari motor listrik yang saya sampai, karena (tinggi badan) saya kan pendek. Jadi cari yang ukurannya lebih kecil,” ucap Tias.

“Rencana mau dipakai buat antar anak sekolah, sama mobilitas sehari-hari, misalnya belanja ke pasar. Jadi memang buat sekitar rumah saja,” kata dia.

Di samping itu, Tias juga mencari model yang punya kualitas baik. Apalagi harga motor listrik tidak murah. “Sebetulnya saya pernah coba Segway, tapi itu sudah over budget banget, karena tembus Rp 30 juta. Tapi memang menurut saya dia paling oke, dari gasnya enggak bikin kaget, paling halus dan enak motornya,” ujar Tias.

Lain halnya dengan Milka (40) asal Jakarta, yang mengincar motor listrik buat aktivitas setiap harinya. Berbeda dengan kebanyakan ibu-ibu yang cari praktis atau murah, ia justru pilih motor listrik yang nyaman. “Cari motor listrik buat ke kantor.

Sudah incar Alva One, tapi saya juga incar Yamaha, tapi belum keluar. Saya tertarik Honda juga, tapi bodinya terlalu kecil. Karena keluarga saya bodinya besar-besar,” kata Milka. “Motor listrik lebih hemat ongkos, pajak lebih murah, dan enggak ada biaya servis. Kalau harga sebetulnya cari yang semurah mungkin, kisaran Rp 20 jutaan,” motor listrik menjadi transportasi kompleks perumaha dan enjadi kebutukan untuk kami ucap dia.

Kebiasaan Berkendara Kaum Hawa Harus Diubah Tingginya minat kaum hawa untuk memiliki motor listrik harus dibarengi dengan edukasi mengenai keselamatan dan keamanan berkendara. Apalagi sudah terkenal di mana-mana, bahwa ibu-ibu kerap kali tertangkap kamera sedang berulah di jalan. Entah itu tidak patuh aturan atau berkendara tanpa mengikuti norma yang berlaku.

Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), mengatakan, kebiasaan negatif yang selama ini dilakukan kaum hawa harus ditinggalkan.

“Karena motor listrik atau sepeda listrik suaranya silent, maka budaya berkendara sudah harus diubah. Indonesia berbeda dengan negara-negara maju yang secara budaya berlalu lintas sudah baik,” ujar Sony, kepada Kompas.com (21/2/2023).

Menurutnya, kondisi karakter jalan di Indonesia ini unik. Karena banyak persimpangan-persimpangan jalan yang tumbuh berdasarkan kebutuhan. “Tidak legal tapi jadi legal oleh penduduk setempat. Sehingga penting melakukan deselerasi beberapa kali untuk berbagi atau mengalah,” ucap Sony.

Kemudian, ia mewanti-wanti kaum hawa agar mengurangi kebiasaan tancap gas, selap selip dan manuver mendadak. “Mengingat banyaknya kendaraan yang ada di jalan raya, selalu komunikasi dengan lampu dan klakson ke penguna jalan lain untuk menghindari miskomunikasi,” kata Sony.

You cannot copy content of this page