Diskominfo Kabupaten Bogor Gagal Bagikan Set Top Box, Ini Sebabnya

ist/net

CIBINONG I POTRETBOGOR.ID-Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Bogor, gagal menyalurkan bantuan Set Top Box (STB) sebanyak 144.232 unit dari pemerintah pusat. Hal itu lantaran data penerima yang tak valid, seperti sudah meninggal dan berpindah rumah.

“Tentu kami akan evaluasi. Kita akan carikan solusinya terkait dengan data yang sudah meninggal atau pindah rumah, apakah akan diberikan kepada yang lain atau bagaimana,” kata Kepala Diskominfo, Bayu Rahmawanto, kemarin.

Menurut Bayu, hingga saat ini dirinya tak mengetahui angka pasti data warga yang menerima STB. Namun hal inilah yang perlu adanya perhatian serius bagi pihaknya, agar bantuan tersebut tepat sasaran.

“Kalau data detailnya kurang begitu hafal, yang pasti kami hanya mensosialisasikan dan mengarahkan saja agar sesuai target. Kan hanya kategori masyarakat yang tidak mampu saja yang dikasih,” jelasnya..

Diketahui, mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor mencatat, pada tahun 2021 jumlah penduduk miskin mengalami kenaikan. Dari 465,67 pada tahun 2020 naik menjadi 491,24 ribu jiwa pada tahun 2021.

Tentunya jika melihat pada data itu, pendistribusian alat untuk menonton TV digital tersebut tidaklah memadai.

Sementara itu, peralihan saluran televisi dari analog ke digital menuai keluhan warga. Salahsatunya, Jujun Djunaedi, warga Kelurahan Pasir Jaya, Kecamatan Bogor Barat misalnya. Sambil menyeruput kopi hitam di warung, ia menggerutu kebijakan tersebut.

“Pemerintah ini aneh, kok maksa banget nyuruh-nyuruh. Kalau nyuruh ya harus dibarengi dengan gantinya dong. Misal, alat itu, apa namanya bok, bok (STB-red)g itu lah, dibagikan gratis dong ke semua warga,” ketusnya.

Ia pun beranggapan jika peralihan ini hanya semata-mata untuk menguntungkan satu pihak. Karenanya, ia berharap agar pemerintah dapat memberikan solusinya.

“Jangan-jangan ada kerjasama tuh sama pabrik yang buat bok (STB-red). Itung aja berapa jumlah warga Indonesia, bagi dua deh tuh duitnya,” ucaonya polos.

Saat ditanya ada sosialisasi dan pembagian gratis dari pemerintah, pria yang berprofesi sebagai buruh harian lepas itu mengaku, tak pernah mendengar. Soal peralihan saluran analog ke digital pun, ia mengaku tahu dari mulut ke mulut.

“Gak ada tuh. Ya kalau pun ada, bagikan semua. Jangan yang miskin, yang kaya. Bagikan semua, itu adil. Yang miskin jelas harus dapat. Yang kaya juga bisa dapat. Kalau beli, ya berarti kan ada kerja sama dengan pabrik,” geramnya

Senada, Ujang (40) warga Citeureup, juga mengeluhkan peralihan saluran Tv yang membuat anak-anaknya menangis hampir setiap hari karena tak bisa menonton TV

“Saya yang kerjanya cuma serabutan gak bisa beli. Kalau pun ada gratis dari pemerintah, sudah pasti gak bakal kebagian. Yang dapat paling yang dekat, tau sendiri lah,” ucap pria berusia 35 tahun itu, sinis.

Terpisah, Zulkifli, salah seorang penjaga toko elektronik di kawasan Bojonggede, Kabupaten Bogor mengaku permintaan STB memang tinggi setelah pemerintah memutus saluran analog. Akibatnya, toko tempatnya bekerja pun kini kekurang stok.

“Benar di toko eletronik set top box pada kehabisan, banyak yang cari. Masyarakat banyak yang marah-marah TV mereka tiba-tiba mati nggak ada saluran. Kalau harga, juga sama ikut naik dari yang standar Rp150 ribu jadi Rp200 ribu,” imbuhnya.

Pantauan di platform jual beli online, harga set top box ada yang dijual hingga Rp 300 ribu. Padahal harga perangkat elektronik yang sudah tersertifikasi Kominfo itu umumnya hanya Rp 160 ribu sampai Rp 180 ribuan.

Seperti di Shopee, harga set top box merek Evercross dijual dengan harga Rp 250 ribu hingga Rp 270 ribu. Toko tersebut telah menjualnya ke 730 orang dengan masa garansi 12 bulan dan memiliki feature HDMI, MP3/MP4 player, USB, dan FHD 1080.

Masih di toko online yang sama, ada pedagang menjual set top box merek Polytron seharga Rp 349 ribu dengan garansi 1 tahun. Dalam deskripsi dijelaskan bahwa fungsi dari perangkat tersebut hanya untuk menangkap siaran digital.

Beralih ke Tokopedia, set top box dengan merek yang sama yakni Polytron bahkan dijual dengan harga Rp 499 ribu. Sementara merek Matrix Digital dijual dengan harga Rp 329.999.

Sebagai informasi, set top box merupakan alat penangkap siaran TV digital. Perangkat ini dibutuhkan bagi masyarakat yang tidak mempunyai TV digital agar bisa tetap mendapat siaran usai TV analog disuntik mati.

Pelaksanaan suntik mati TV analog ini berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2021 tentang Pos, Telekomunikasi, dan Penyiaran. (HRb/Pb)

Editor : Ab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page