Kasus Dugaan Penganiayaan Siswa di SMK Generasi Mandiri Berahir Damai

GUNUNG PUTRI I POTRETBOGOR.ID- Kasus dugaan penganiayaan fisik, yang dilakukan oleh oknum guru terhadap siswanya di SMK Generasi Mandiri yang berlokasi di Jalan Barokah, No.08 RT 03 RW 11 Desa Wanaherang Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, kini berahir damai.

Kesepakatan damai melalui mediasi ini, diperoleh setelah kedua belah pihak mengambil jalur islah atau saling memaafkan. Saat mediasi pun, dihadiri orang tua siswa yang menjadi korban, juga disaksikan langsung Guru BK, salah satu keluarga murid, dan juga  guru perwakilan dari sekolah setempat.

“Ada Dua poin yang kami minta, pertama agar oknum guru tersebut tidak melakukan hal serupa, dan membuat surat pernyataan dilanjut permintaan maaf langsung. Kemudian yang kedua, adanya jaminan kepada anak kami, untuk tidak di perlakukan diskriminasi di sekolah,” kata orang tua murid AA, kepada potretbogor.id, Kamis (22/9/2022).

Meski berujung damai, pihak orang tua siswa tetap meminta sejumlah syarat kepada oknum guru yang melakukan pemukulan. Salah satunya meminta surat pernyataan pengakuan bersalah dan permintaan maaf, dan juga tidak ada intimidasi dari pihak sekolah terhadap anaknya.

“Kami juga meminta agar tidak muncul lagi kasus yang sama. Pada intinya tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut,” jelasnya.

Kasus kekerasan terhadap siswa didik di lingkungan sekolah, sangatlah sensitif. Apa pun itu, jika ada permasalah terhadap anak, disarankan agar memanggil wali murid terlebih dahulu, untuk didiskusikan dengan guru maupun wali murid beserta kepala sekolah.

“Kami minta kepada pendidik beserta kepala sekolah, jangan sampai ada seperti ini lagi. Jadi kalau mendidik dan mengajar itu, ya tidak perlu melakukan kekerasaan, sebab dari kejadian itu anak saya gak mau sekolah,” ucapnya.

Sementara itu, Naning Selaku Guru Bimbingan dan Konseling (BK) menjelaskan, bahwa kejadian tersebut akan menjadi bahan pembelajaran dan pengalaman bagi pihak sekolah, khususnya oknum guru inisial FF.

“Kami berjanji akan selalu mengingatkan kepada guru-guru dalam mendidik anak-anak, untuk tidak menggunakan cara-cara kekerasan,” jelas Naning.

Ia juga meminta maaf kepada para orang tua murid, yang sebelumnya menjadi korban kekerasan oknum guru tersebut. Sebab, pihaknya menegaskan jika saat ini ada Standar Operasional Prosedur (SOP) khusus terkait penanganan kenakalan siswa.

“Atas nama sekolah kami minta maaf. Tapi, kejadian tersebut memang saya tidak mengetahuinya seperti apa. Karena di sekolah kami sudah ada SOP penanganan bagi kenakalan siswa,” ujarnya.

Peristiwa ini, kata Naning, harus menjadi pembelajaran bersama. sebab dengan adanya kasus ini seakan-akan guru itu lebih mengutamakan mengajar. Padahal, tugas guru adalah 3M, yakni Mengajar, Mendidik dan Melatih. Dan ini perlu adanya sinergi antara sekolah dengan wali murid.

“Jadi, apa yang diinginkan sekolah dan apa yang diharapkan wali murid bisa tersampaikan,” paparnya.

Ditempat yang sama, oknum Guru Inisial FF yang mengakui dan membenarkan atas terjadinya, menjelaskan jika hal itu dikarenakan sikap yang telanjur emosi dan adanya kehilafan. Saat ini, iapun sudah  meminta maaf atas kejadian tersebut.

“Waktu itu sedang emosi dan khilaf. Atas kejadian itulah, saya minta maaf kepada orang tua dan juga AA,” akunya.

Dirinya juga menjelaskan, bahwa kejadian itu bukan disengaja, dan tidak ada niat lain hanya untuk mendidik, yang pada awal permasalahannya hanya menegur siswa yang rambutnya agak panjang.

“Sebenarnya tidak ada niat lain, saya hanya ingin mendidik saja,” tukasnya.

Untuk diketahui, oknum guru berinisial FF ini melakukan dugaan kekerasan fisik  terhadap muridnya berinisial AA yang saat ini duduk dibangku kelas XII, hingga membuat trauma dan tidak mau sekolah. Karena emosi dan mengaku khilaf, terjadilah insiden tersebut beberapa waktu lalu, dan pada ahirnya dapat diselesaikan secara kekeluargaan. (Hom/Rom)

Editor : Ab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page