Ketua Komisi IV Minta RSUD Cileungsi Tingkatkan Pelayanan

CILEUNGSI | POTRETBOGOR.ID – Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor Daerah Pemilahan (Dapil) Dua, Muad Khalim angkat bicara terkait persoalan RSUD Cileungsi yang sebelumnya dikeluhkan masyarakat tentang minimnya fasilitas Alat Kesehatan (Alkes) dan tenaga medis. 

Tak hanya itu, terkait parkir yang dikeluhkan masyarakat juga dirinya turut menyoroti. Namun dirinya tak bisa berkomentar banyak, lantaran pengelolaan parkir di RSUD tersebut, dilakukan oleh pihak ke Tiga.

“Untuk keluhan fasilitas, saya sering mendorong untuk peningkatan Alkes. Tapi, yang perlu difikirkan bukan sekedar alkesnya, karena disisi lain juga harus disiapkan tenaga medis sesuai dengan profesinya, dengan melihat bagaimana gedung atau ruangannya, cukup gak anggarannya?,” kata Muad Khalim, dihubungi Potret Bogor, Kamis (30/6/2022).

Muad menambahkan, secara pelayanan diakuinya memang tidak maksimal sesuai harapannya sebagai wakil rakyat. Hal itu diakuinya, meski sudah sering menyampaikan dalam rapat-rapat di Komisi IV. 

“Saya kira tidak hanya RSUD Cileungsi saja, semua RSUD di Kabupate Bogor, selalu saya tekankan untuk memaksimalkan pelayanan,” jelasnya.

Tak hanya itu, ia mengaku paling sering komunikasi dengan pihak manajemen RSUD, terkait banyaknya masyarakt yang meminta pertolongan tentang beberapa keluhan yang dirasakan.

“Terkait kritik masyarakat maupun aktivis, bagus bangetlah. Saya pikir lebih banyak yang kritik tajam lebih bagus selama untuk kepentingan masyarakat,” imbuhnya.

Disinggung kaitan perlu adanya Insoeksi Mendadak (Sidak) yang sebelumnya pernah diutarakan  salahsatu Anggota Komisi IV, dirinya sebagai ketua komisi bel bisa menjelaskan secara mendetail.

“Kalau sidak belum dijadwalkan di Komisi. Tapi kalau ke RSUD, saya sering itupun tanpa sepengetahuan siapa-siapa, karena s hanya menengok orang sakit,” imbuhnya.

Senentara berkaitan parkir yang dikeluhkan masyarakat karena biaya yang terlalu mahal, pihaknya hanya menjelaskan jika persoalan parkir dikelola pihak ke 3 .

“Maunya saya gratis, tapi tidak mungkin karena nnti PADnya berkurang jauh kalau semua parkir Rumah Sakit (RS) digratiskan. Ya idealnya flat tidak pake dihitung jam,” tukasnya.

Sebelumnya, perwakilan masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Aktivis Sosial Kemasyarakatan Wilayah Bogor Timur, mendatangi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cileungsi, Senin (11/4/2022) lalu, untuk menyampaikan aspirasi sekaligus berdialog dengan manajemen RSUD.

Kedatangan mereka dalam rangka mengklarifikasi keluhan masyarakat, terkait dengan pelayanan kepada masyarakat dan ketersediaan tenaga dan alat medis.

“Dalam audensi ini, kami mewakili masyarakat menuntut adanya perbaikan pelayanan sekaligus memenuhi ketersediaan tenaga juga alat medis yang ada di RSUD Cileungsi,” ujar Aktivis Bogor Timur, Romi Sikumbang yang ditemui Rakyat Bogor.

Romi menjelaskan, tuntutan tersebut sebanyak tujuh poin terhadap pihak managemen RSUD Cileungsi, agar kedepannya bisa menjalankan pelayanan sesuai dengan kriteria Standar Operasional Prosedur (SOP).

“RSUD Cileungsi Ini adalah yang termegah di Jawa Barat dengan pembangunannnya yang menelan anggaran Rp. Ratusan Miliar. Hal itu seharusnya diikuti dengan pelayanan yang baik dan peralatan medis yang lengkap serta tersedia tenaga medis sesuai kebutuhan,” jelas Romy.

“Namun yang terjadi adalah buruknya pelayanan yang dirasakan oleh masyarakat. Sehingga berdampak munculnya keluhan masyarakat yang hendak berobat yang mengakibatkan banyak warga enggan berobat ke rumah sakit ini, dan hal ini pun diakui pihak manajemen,” tambahnya.

Selain itu, Romy juga menyoroti ketersediaan alat medis yang tidak kunjung maksimal, dimana ketika sebuah RSUD sudah memenuhi syarat untuk menjadi kelas B, maka seharusnya ketersediaan alat medis pun harus lengkap. Dan jika ada kerusakan, sebaiknya segera diperbaiki agar tidak mengurangi pelayanannya.

“Jadi, jangan ada ‘bisnis’ di RSUD ini. Salah satu contohnya, untuk pasien yang melahirkan yang bisa normal, baiknya dilakukan kelahiran normal dan jangan dipaksakan atau disarankan untuk cesar dan sebagainya,” terangnya.

Persoalan lainnya, kata Romi, terkait tiket karcis parkir yang seharusnya disarankan sekali bayar, jangan dihitung per jam, karena ini bukan mal atau pusat pertokoan. Menurutnya, dengan demikian, pihak managemen bisa mengurangi beban masyarakat kecil atau tidak mampu.

 “Karena yang berobat disini, mayoritas masyarakat menengah kebawah,” ujarnya.

Tak hanya itu, pihaknya meminta untuk mempermudah bagi masyarakat dalam menggunakan ambulan. Seperti dalam hal antar  jemput pasien, jangan dibebankan lagi biaya administrasinya kepada pasien.

Bahkan, persoalan lainnya juga terkait limbah RSUD yang harus benar-benar rapih. smsebab, rumah sakit milik oemerintah ini ada di tengah masyarakat, sehingga penanganan limbah RSUD tidak bisa manual dan harus profesional.

“Kami minta Anggota DPRD Kabupaten Bogor untuk turun melakukan Sidak. Hal itu agar jelas kekurangan yang dikeluhkan masyarakat, seperti peralatan kesehatan di RSUD untuk segera dipenuhi dan yang rusak segera diperbaiki,” paparnya.

Meski demikian, Romi mengemukakan pihaknya berterimakasih atas kesempatan audensi yang diberikan oleh pihak RSUD Cileungsi, dan memberikan penghargaan setinggi- tingginya kepada pihak manajemen yang sudah bekerja selama ini dalam melayani masyarakat.

“Ini seharusnya menjadi revisi kinerja pihak managemen RSUD Cileungsi kedepannya, agar lebih ditingkatkan lagi. Selain itu, demi masyarakat, jangan pernah anti kritik jika kinerjanya memang belum maksimal. Karena, itu adalah tugas kami sebagai aktivis,” imbuh Romi.

Secara senada, Relawan Pusat Kesehatan Sosial (Puskessos) Kecamatan Cileungsi, Nana (45), mengatakan jika pihaknya meminta Pemerintah Kabupaten Bogor untuk mempermudah akses bagi relawan yang bernaung di Dinas Sosial dalam membantu masyarakat.

“Kami minta diperhatikan, dan tutup akses masuk kader yang mengatasnamakan relawan sosial. Hal ini guna mempersempit bisnis jual beli Jamkesda maupun Jampersal,” ujarnya.

Tak hanya itu, terkait pelayanan parkir kendaraan di RSUD Cileungsi seringkali dikeluhkan oleh para pengunjung yang datang. Pasalnya, selain biaya parkir yang mahal, fasilitas yang disediakan dinilai kurang maksimal.

Kondisi ini, tentu membuat para pengunjung mendesak pihak RSUD Cileungsi, segera melakukan perbaikan pada fasilitas parkir, seperti penataan areal, kebersihan hingga tarif parkir yang jangan sampai kemahalan.

“Sistem parkir disini perlu adanya pembenahan, mulai dari fasilitas hingga tariff parkir yang murah,” kata salah satu pengunjung RSUD Cileungsi, Taopik (36).

Menurut Taopik, kondisi lokasi parkir yang seperti itu sangat tidak sebanding dengan besarnya biaya parkir yang harus dikeluarkan. Karena beban biaya parkir dikenakan per jam dengan kelipatannya.

“Jadi makin lama di RSUD Parkirnya makin mahal. Sudah seperti berkunjung ke Mall. Padahal saya kesini menjenguk orang yang sakit. Apalagi kalau ada keluarga yang sakit dan harus didampingi, biaya parkirnya sangat membebani pengunjung,” tuturnya.

Sementara itu, pihak RSUD Cileungsi tidak menampik adanya keluhan masyarakat yang muncul terkait minimnya fasilitas maupun tenaga medis. Hal itu diakui dr.Aprizal selaku hubungan masyarakat (Humas) kepada Rakyat Bogor.

Menurutnya, adapun keluhan bagi masyarakat tentang hal ini, pihaknya mengaku menerima dengan terbuka dan menganggap hal itu merupakan batas kewajaran. 

“Kita membuka lebar, kita membuka diri. Namanya kan keluhan, ya kita terima, karena sejauh ini juga kita sediakan kotak saran dan kritik,” kilah dr.Aprizal.(red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page